Hallo Good People,
Ya pada blog sebelumnya baru awal mulainya kisah hidup teman dekat saya, bahkan sangat dekat dengan saya, Saya akan mencoba menceritakan lanjutan kisah hidupnya sehingga harapannya bisa menjadi motivasi tumbuhnya rasa syukur dengan apa yang telah teman-teman dapatakan.
Hari itu adalah hari qurban (lebaran haji), saat semua orang sedang berqurban dan berkumpul dengan keluarga lain halnya dengan keluarga echa yang sedang sibuk mengurus kelahiran sang ibu, pasca kelahiran keuangan mulai menipis, sang ibu belum bisa bekerja kembali, selama 1 bulan keluarga echa bergantung pada adik dari ibunya untuk makan dan biaya sehari-hari.
Satu bulan berlalu, air ASI tiba-tiba tidak keluar, mungkin faktor ibunya terlalu setres dan atau kurang gizi, terpaksa saat itu adik bungsu yang diberi nama Aidil itu harus menggunakan susu formula, harga susu formula 1 dus kecil saja bagi mereka bisa buat makan 2-3 hari sekeluarga, namun terpaksa mereka harus membelinya, terkadang mereka tahan rasa lapar untuk bisa beli adik bungsunya itu, keluarga echa makan 1 hari sekali itu sudah sangat beruntung sekali, dengan penghasilan paling besar Rp. 15.000/hari mereka harus cukup untuk menghidupi ibu & 5 orang anak, maka dari itu dikarenakan ingin menaikan penghasilan Ibunya rela tidak pulang untuk bekerja di salah satu rumah untuk membantu urusan rumah tangga dengan gaji 25.000/hari.
Alhamdulillah, dengan pengahasilan tetap Rp. 25.000/hari kebutuhan hidup mereka membaik untuk urusan mengisi perut, untuk yang lainnya ??
Dari sini Echa mulai berfikir untuk mencari tambahan, dikarenakan sering bantu ibunya sehingga echa jadi perhatian orang-orang sekitar tempat ibunya bekerja, Echa mulai suka bantu apa saja yang disuruh orang, misal membersihakn kolam ikan, membersihkan kamar mandi, belanja ke pasar, apapun serabutan yang disuruh echa lakukan, upahnya lumayan untuk membantu tambah-tambaha uang jajan, maklum anak-anak umur segitu sedang sukanya jajan.
Echa termasuk bagus dalam melakukan pekerjaan rumah dan mungkin orang-orang sekitar mulai berempati apa yang dialami keluarganya, namun pekerjaan serabutan itu tidak datang tiap hari, walaupun echa sebenarnya ingin ada setiap hari, ya paling seminggu sekali ada kerjaan itu dan jika ada echa pasti selalu bersemangat.
Pernah suatu hari saya melihat Echa dan adiknya Aldi tiba-tiba mereka mau pergi keluar, saya tanya.
"Echa mau kemana ?"
"keluar dulu" echa jawab
"Ayo main" ajak saya.
"Nanti aja, ada perlu
" dia pergi dengan adik pertamanya yang saat itu kelas 2 SD ke arah jalan.
Ternyata mereka berdua "nga-rongsok" = memulung besi seperti paku,baud,dll pokonya yang bentukanya besi, sambil membawa kresek hitam dibawa sinar matahari mereka menelusuri jalan berharap menemukan besi-besi karat yang dapat mereka jual, saat itu besi dijual Rp. 1000/kg, tiap hari mereka selalu melakukan itu tapi hanya bertahan 1 minggu saja karena jalan yang mereka lalui sudah ,mereka telusuri tiap harinya untuk mendapat besi dijalan yang sudah dilalui pasti sangat kecil kemungkinannya, dan yang membuat saya terharu adalah merka mengumpulkan besi itu hanya untuk membantu membeli susu formula untuk adiknya, dikarenakan mereka suka tidak tega adiknya menangis tengah malam karena kehausan dan kelaparan karena tidak adanya susu, terkadang mereka isi botol dot dengan air putih saja, namun perut bayi tetap lapar dan terus menangis, maklum ibunya jarang sekali pulang, maka bayi itu echa dan abang yang mengurunya.
Mereka tidak bisa berbuat apa-apa jika seperti itu hanya bisa menenangkan adik bayinya hingga tertidur karena lelah menangis.
saya menceritakan hal ini sangat sedih dan saya sering nangis, kenapa saya dulu tidak bisa bantu mereka, dan saya sangat menyesal dilingkungan saya ada keluarga yang sangat misakin tapi kurang diperhatikan oleh tetangga yang lain, jadi guys kalau bisa kita selalu perhatikan lingkungan kita, bantu mereka jika mereka membutuhkan jangan hanya bisa membicarakannya saja, but Action !!
Setahun berlalu, Adik bungsunya sudah umur 1 tahun juga, badannya kecil namun sehat dengan keadaan yang seadanya, Echa pun saat itu kelas 5 SD.
Tiba-tiba saat jam sekolah ada keributan dirumah echa, maklum sekolah echa sangat dekat dengan rumahnya hanya 5 meter saja, setelah diselidiki ternyata Ibu Echa sedang bertengkar dengan sesorang, yang ternyata adalah sang Ayah !!, yang setahun ini hilang bagai ditelan bumi, Ayahnya datang untuk mengambil adik bungsunya untuk dia bawa ke Bogor kampung halamannya, saat pertengkaran saya melihatnya mereka adu mulut dan ditenangkan warga sekitar dan bahkan guru-guru sekolah, saya lihat Echa hanya diam dan nangis, ya bayangkan saja rasa malu dan bingung dia rasakan, saya menenangkan Echa.
Saya lihat keadaa sudah mulai reda, karena salah satu Guru mebawanya kedalam rumah dan diselesaikan, dan yang saya tau akhirnya adik bungsunya dibawa oleh ayahnya ke Bogor, agar bisa mengurangi beban ibunya dan ibu echa saat itu juga ditalak tanpa ke pengadilan agama.
Well, sekaranga adiknya sudah tidak bersama mereka, namun mereka sangat merasa kesepian, akrena yang setiap hari mereka mandikan, ganti popok, cuci bajunya, memberinya susu sudah tidak ada lagi, rasa kangen mulai mereka rasakan hingga akhirnya 4 bulan berjalan, ibu echa sakit karena memikirkan anak bungsunya, dan akhirnya memutuskan menjual tabung Gas 12 Kg untuk ongkos ke Bogor, saat itu Ibunya menjual tabung gas ke tetangganya dengan harga Rp. 75.000, saat itu uang segitu cukup buat tiket bus 4 orang ke Bogor dengan beka seadanya.
Akhirnya mereka ke Bogor,,,
Ayahnya itu tinggal di rumah orang tuanya masih lengkap, dulu sebelum berantakan, saya selalu melihat echa dan keluarganya sering dikunjungi nenek dan kakenya dari Bogor dan Echa sangat bahagia sekali saat itu jika dikunjungi atau mengunjunginya tiap liburan sekolah, namun berbeda dengan sekarang...
Tibalah diteras rumah orang tua Ayahnya, yang pertama mereka lihat adalah adik bungsunya yang sedang merangkak sambil memakan kue bantat rasa jahe (saya lupa nama kuenya), untuk anak 16 bulan adiknya belum bisa berdiri pertumbuhannya terhambat mungkin, ibunya langsung lari dan menggendong sambil menangis, echa dan adiknya pun lalu mengikuti, yang mereka lihat adiknya sangat kurus sekali, dari mulai ujung kepala sampai kaki mereka perhatikan sangat tidak baik, Nenek dan kakeknya lalu muncul dan mereka kaget melihat ibu, echa dan adiknya datang.
Ibunya echa saat itu terus saja menangis sepertinya menyesal, dan echa saat itu melihat ayahnya ternyata sedang tidur, infonya ayahnya pun disitu menganggur jadi adik bungsunya itu dirawat kakek dan neneknya seadanya, karena mereka juga tidak punya pekerjaan.
Ibunya saat itu pinjam uang sana-sini disekitaran rumah beruntung ada yang bantu temannya dan akhirnya adiknya dibawa ke dokter anak, benar saja dia mengalami Gizi buruk, jadi perlu pengobatan rawat jalan, obat resepnya pun cukup mahal karena merupakan vitamin-vitamin dan susu untuk gizi buruk.
Dengan pinjaman uang itu akhirnya mereka pulang dengan membawa kembali adiknya itu, meski ada keributan lagi namun ibunya memnag dan langsung pergi dengan echa dan adik-adiknya.
Dan mereka berjanji akan terus semangat menjalani hidup dengan sekuat tenaga, Sampai saat ini alhamdulillah, mereka mampu bangkit dan bersatu, Echa yang sekarang sudah bekerja cukup baik dengan jabatan yang dimilik, adik2nya sedang menyelasaikan Kuliah, dan adik bungsunya yang saat ini masih SMP. :)
Ya kita dapat mengambil banyak pembelajaran dari kisah ini, terutama untuk saya, bahwa kita yang mampu harus bisa saling membantu, membantu orang-orang terdekat dahulu, walaupun kecil tapi bermakna, yang penting action jangan diam saja, dan inti dari kisah ini adalah kita harus lebih bersyukur apa yang diberikan tuhan untuk kita, apapun itu.
Sebetulnya masih sangat banyak tentang Echa yang tidak saya ceritakan, tapi intinya Echa ini anak dengan tanggungjawab yang sangat bagus, dia pemikirannya dewasa pada usianya yang masih kecil, dia sangat sayang dan pernah bilang ke adik-adiknya bahwa dialah pengganti ayahnya, dia janji akan melindungi dan menyayangi mereka pokonya kakak idaman banget,,ehehe..
OK, sekian ya guys,,
Blog selanjutnya saya akan lebih fokus ke hobby saya yaitu memasak, jadi akan saya share menu-menu yang sering saya masak dirumah..
Bye.....
Sunday, September 15, 2019
Friday, September 6, 2019
Aku Harus Bisa . . .
Hallo good people,
Ini adalah blog pertama saya, jadi mohon maaf kalau masih banyak kekurangan, tapi saya punya cerita yang menurut saya bisa membuat kita selalu bersyukur dalam keadaan apapun, cerita ini tentang teman dekat saya, bahkan dekat sekali tentang "Perjuangan Hidup", saking dekatnya saya merasa saya mengalami apa yang dia alami, sengaja saya buat beberapa part karena akan saya ceritakan beberapa fase kehidupannya...kita mulai ya....
Panggil saja Echa, begitu panggilannya, seorang anak laki-laki putih kurus asli Sunda, dibilang cakep ya lumayanlah bisa membuat orang selalu ingat wajahnya, dia anak kedua dari 5 bersaudara, kaka pertama berbeda ayah, jadi echa dan ketiga adiknya ini adalah anak dari pernikahan kedua ibunya, echa anaknya sangat periang, melankolis, sangat jahil dan lebih suka sendiri, namun sangat riang jika didepan ornag banyak padahal sebenarnya dia sangat suka dengan kesendirian.
"Assalammualaikum, papah pulang..."
"horeeeee papah pulang,,,"semua anak menghampiri berlari dari ruang TV ke ruang tamu depan, salam dan mengambil oleh-oleh yang dibawa, kecuali anak pertama biasa saja karena saat itu juga dia sedang belajar untuk ulangan Biologi di SMAnya, dan memang kurang dekat juga sih.
"Gimana mah sudah diperiksa ke dokter ?"Ayahnya bicara ke Ibunya.
"Udah, sudah jalan 1 bulan" Ibunya menjawab
"Alhamdulillah,, Adit, Echa, Aldi, Alin kesini dulu semua, oleh-olehnya simpen dulu, alhamdulillah mamah lagi hamil, nah jadi selama papah kerja kalian jangan pada nakal dan bantuin pekerjaan mamah, mamah ga boleh terlalu cape" ucap ayah.
Adik-adik echa masih konsen sama oleh-oleh yang ayahnya bawa beli di Indomaret yang baru buka jadi dapat hadiah boneka dan balon, mereka masih berebut...
Abang (kaka pertama) terlihat kaget, dan Echa dengan umur masih 9 tahun saat itu hanya tersenyum melihat mamah dan papah"
Seperti pesan ayahnya untuk membantu mamahnya dirumah, anak-anak ini sepertinya acuh saja, karena mungkin sudah terbiasa rumah berantakan, jadi ya acuh saja, karena sibuk main.
Kondisi rumah echa ini memang selalu berantakan, setrikaan menumpuk, piring jarang langsung dicuci, ngepel rumah sepertinya seminggu sekali, saya tau karena sering main dirumah echa ini kebetulan saya sekelas dan sebangku di SD yang jarakanya hanya 5 langkah dari rumah echa.
jadi setiap istirahat echa ini selalu disuruh pulang untuk makan, saya dan echa kelas 4 SD saat itu.
Masuk ke kehamilan ibunya yang ketiga bulan...
Seperti biasa ayahnya pulang bekerja sebagai kondektur bus "DOA IBU jurusan Tasikmalaya - Jakarta" jadinya kerjanya 2 hari kerja dan 2 hari libur, kalau pulang berarti ayahnya ada dirumah 2 hari,
"kalau suami pulang tolong disambut, setidaknya ambilin minum minimal, boro-boro makan mah"
Ibunya hanya cemberut saja sambil nonton TV, tidak respon apapun.
"Kerja cape, balik niatnya bisa istirahat malah dicemberutin, ya udah echa ayo temenin keluar beli nasi padang, papah laper, aldi dan alin mau ga ?, kata ayah, mereka menganguk mau.
"Ya sudah tunggu ya, eh Adit mana ?" kata ayah
"Lagi kerja kelompok pah dirumah A Andri" kata echa.
Jalan kaki lah mereka sekitar 500 m, dijalan ayahnya sambil pegang tangan Echa dan sambil bilang "Mamah kalau engga ada papah suka dirumah ga ?" ayah tanya
"Mamah suka ke warung belakang pah, terus dirumah aja" echa jawab
"Kamu suka bantuin mamah ga ?" ayah tanya lagi
"kalau engga cape weh pah, suka ngepel echa mah" echa jawab lagi.
"Setiap hari makan ?" tanya lagi
"Makan tapi siang & malam aja" jawab echa
"Pagi sebelum sekolah gak sarapan ?"ayah tanya
"Kan dikasih bekel 1000, jadi echa suka beli bubur 500, sisanya nabung di bu guru"echa jawab
Sampailah di RM Nasi padang...
Seperti biasa favorit mereka nasi+paru beli 3 bungkus plus tambah nasi 1 bungkus dan tambah kuah gulainya saja sebungkus, maklum penghasilan kondektur tidak terlalu besar, jadi ayahnya harus mengatur sebaik mungkin keuangannya, karena semua uangnya pasti disetor ke kas negara alias ibunya..hehehe
Dengan membawa bungkusan nasi padang tadi, sesampainya dirumah ayah membagikannya 1 bungkus untuk berdua, tapi ibunya tetap saja cemberut tidak menghiraukan.
Echa bilang sih ini awal mulanya mereka sering bertengkar, namun saat itu echa belum tau apa yang diributkan.
Lanjut sampai kehamilan ke 7 bulan ibunya, disitu echa merasa da yang tidak beres dengan keluarganya, karena ayahnya menjadi sering tidak pulang yang biasnaya 2 hari sekali menjadi seminggu sekali dan setiap pulangpun Ibunya masih bersikap tidak baik ke Ayahnya,
Dari situ Echa mulai mencari tau apa masalah mereka, dan suatu hari tiba-tiba ada seorang bapak-bapak datang ke rumah menanyakan ke Echa.
"Mamah mana ?"kata laki-laki itu
"Lagi ke pengkolan"echa jawab, (kalau disana kata "Pengkolan" itu sama dengan lagi ke Kota dan pasti belanja)
"Gaya amat !! Bayar hutang ga bisa !!" kata si Bapak kesal.
"Besok saya kesini lagi !!' sambil bapak itu pergi.
Lalu echa lapor ke ibunya kalau tadi ada orang yang marah-marah dan diceritainlah semua perkataannya, Ibunya cuma cuek saja dan bilang
"Gara-gara Papah kamu tuh !!" Ibunya sambil duduk dan kesal
"kenapa emang mah ?" echa jawab
"Ya itu ca mangkanya echa harus belajar yang bener supaya jadi orang sukses, ga kaya mamah dan papah yang salah" Ibunya menasehati.
Echa cerita ternyata keluarganya terlilit hutang, jadi pendapatan dan pengeluaran sangat tidak seimbang, habbit ibunya yang royal dan Ayahnya seorang kondektur membuat mereka terlilit hutang dan buat modal usaha yang tidak jalan, maklum ibu echa ini dulunya memang Orang kaya sehingga mungkin habbitnya sudah royal dan mengatur keuangan yang pas-pasan jadi tidak ter-manage dengan baik.
Ayah echa semenjak penagih hutang datang kerumah, tidak pernah pulang dan memberi nafkah, sampai tiba Ibunya melahirkan.
Saat itu Bulan Januari tanggal 20 tahun 2005 ibunya sedang berbaring karena sudah merasa mules, hari itu hujan deras sekali dan tidak berhenti hingga malam hari, Ibunya berpesan kepada anak-anaknya untuk tidur sekamar semua karena buat jaga-jaga kalau ibunya sudah harus ke RS, ibunya bilang akan kuat sampai besok baru masuk RS karena nunggu sudara yang sudah dihubungi untuk meminjam uang karna tidak ada uang sepeserpun saat itu, akhirnya mereka tidur.
Tiba-tiba pukul 02.00 pagi Ibunya membangunkan Adit dan Echa untuk minta tolong ke Bidan yang jaraknya 500 m dari rumah, akhirnya Echa dan Adir bergegas ke Bidan dan mengetuk-ngetuk pintu sampai sekitar 30 menit akhirnya bidan keluar, maklum dulu Hanphone kami masih belum punya.Bidan langsung bergegas ke rumah kami, Adit pun mencoba menghubungi Pamannya yang di bandung untuk minta tolong.
Dan akhirnya alhamdulillah pukul 10.00 Ibu Echa melahirkan seorang anak laki-laki dan semua biaya dibantu dari saudara-saudara.
Dan yang membuat Echa sangat sedih karena Ayahnya belum ada kabar juga, sampai menajdi pembicaraan tetangga dan saudara.
Disini mulailah masa kelam untuk kelaurga Echa dimulai, kehidupan yang awalnya normal dan harmonis sudah hancur, disini saya dan echa semakin dekat dan saya hanya bisa mendengar ceritanya saja karena menurut dia, dia sedikit lebih tenang dan echa berpesan ceritain sama orang-orang supaya selalu bersyukur, bahkan hingga saat ini setelah kita sibuk dengan kerjaan masing-masing kami masih berkomunikasi dengan baik.
Dan echa punya penyemangat dengan kata "AKU HARUS BISA . . . !!"
Lanjut part 2 ya, part 1 ini merupakan perkenalan dahulu, selanjutnya akan saya ceritakan bagaimana kelanjutan hidup seorang Echa yang harus menjaga ketiga adiknya dan bahkan masih bayi merah.
Terima Kasih.
Ini adalah blog pertama saya, jadi mohon maaf kalau masih banyak kekurangan, tapi saya punya cerita yang menurut saya bisa membuat kita selalu bersyukur dalam keadaan apapun, cerita ini tentang teman dekat saya, bahkan dekat sekali tentang "Perjuangan Hidup", saking dekatnya saya merasa saya mengalami apa yang dia alami, sengaja saya buat beberapa part karena akan saya ceritakan beberapa fase kehidupannya...kita mulai ya....
Panggil saja Echa, begitu panggilannya, seorang anak laki-laki putih kurus asli Sunda, dibilang cakep ya lumayanlah bisa membuat orang selalu ingat wajahnya, dia anak kedua dari 5 bersaudara, kaka pertama berbeda ayah, jadi echa dan ketiga adiknya ini adalah anak dari pernikahan kedua ibunya, echa anaknya sangat periang, melankolis, sangat jahil dan lebih suka sendiri, namun sangat riang jika didepan ornag banyak padahal sebenarnya dia sangat suka dengan kesendirian.
"Assalammualaikum, papah pulang..."
"horeeeee papah pulang,,,"semua anak menghampiri berlari dari ruang TV ke ruang tamu depan, salam dan mengambil oleh-oleh yang dibawa, kecuali anak pertama biasa saja karena saat itu juga dia sedang belajar untuk ulangan Biologi di SMAnya, dan memang kurang dekat juga sih.
"Gimana mah sudah diperiksa ke dokter ?"Ayahnya bicara ke Ibunya.
"Udah, sudah jalan 1 bulan" Ibunya menjawab
"Alhamdulillah,, Adit, Echa, Aldi, Alin kesini dulu semua, oleh-olehnya simpen dulu, alhamdulillah mamah lagi hamil, nah jadi selama papah kerja kalian jangan pada nakal dan bantuin pekerjaan mamah, mamah ga boleh terlalu cape" ucap ayah.
Adik-adik echa masih konsen sama oleh-oleh yang ayahnya bawa beli di Indomaret yang baru buka jadi dapat hadiah boneka dan balon, mereka masih berebut...
Abang (kaka pertama) terlihat kaget, dan Echa dengan umur masih 9 tahun saat itu hanya tersenyum melihat mamah dan papah"
Seperti pesan ayahnya untuk membantu mamahnya dirumah, anak-anak ini sepertinya acuh saja, karena mungkin sudah terbiasa rumah berantakan, jadi ya acuh saja, karena sibuk main.
Kondisi rumah echa ini memang selalu berantakan, setrikaan menumpuk, piring jarang langsung dicuci, ngepel rumah sepertinya seminggu sekali, saya tau karena sering main dirumah echa ini kebetulan saya sekelas dan sebangku di SD yang jarakanya hanya 5 langkah dari rumah echa.
jadi setiap istirahat echa ini selalu disuruh pulang untuk makan, saya dan echa kelas 4 SD saat itu.
Masuk ke kehamilan ibunya yang ketiga bulan...
Seperti biasa ayahnya pulang bekerja sebagai kondektur bus "DOA IBU jurusan Tasikmalaya - Jakarta" jadinya kerjanya 2 hari kerja dan 2 hari libur, kalau pulang berarti ayahnya ada dirumah 2 hari,
"kalau suami pulang tolong disambut, setidaknya ambilin minum minimal, boro-boro makan mah"
Ibunya hanya cemberut saja sambil nonton TV, tidak respon apapun.
"Kerja cape, balik niatnya bisa istirahat malah dicemberutin, ya udah echa ayo temenin keluar beli nasi padang, papah laper, aldi dan alin mau ga ?, kata ayah, mereka menganguk mau.
"Ya sudah tunggu ya, eh Adit mana ?" kata ayah
"Lagi kerja kelompok pah dirumah A Andri" kata echa.
Jalan kaki lah mereka sekitar 500 m, dijalan ayahnya sambil pegang tangan Echa dan sambil bilang "Mamah kalau engga ada papah suka dirumah ga ?" ayah tanya
"Mamah suka ke warung belakang pah, terus dirumah aja" echa jawab
"Kamu suka bantuin mamah ga ?" ayah tanya lagi
"kalau engga cape weh pah, suka ngepel echa mah" echa jawab lagi.
"Setiap hari makan ?" tanya lagi
"Makan tapi siang & malam aja" jawab echa
"Pagi sebelum sekolah gak sarapan ?"ayah tanya
"Kan dikasih bekel 1000, jadi echa suka beli bubur 500, sisanya nabung di bu guru"echa jawab
Sampailah di RM Nasi padang...
Seperti biasa favorit mereka nasi+paru beli 3 bungkus plus tambah nasi 1 bungkus dan tambah kuah gulainya saja sebungkus, maklum penghasilan kondektur tidak terlalu besar, jadi ayahnya harus mengatur sebaik mungkin keuangannya, karena semua uangnya pasti disetor ke kas negara alias ibunya..hehehe
Dengan membawa bungkusan nasi padang tadi, sesampainya dirumah ayah membagikannya 1 bungkus untuk berdua, tapi ibunya tetap saja cemberut tidak menghiraukan.
Echa bilang sih ini awal mulanya mereka sering bertengkar, namun saat itu echa belum tau apa yang diributkan.
Lanjut sampai kehamilan ke 7 bulan ibunya, disitu echa merasa da yang tidak beres dengan keluarganya, karena ayahnya menjadi sering tidak pulang yang biasnaya 2 hari sekali menjadi seminggu sekali dan setiap pulangpun Ibunya masih bersikap tidak baik ke Ayahnya,
Dari situ Echa mulai mencari tau apa masalah mereka, dan suatu hari tiba-tiba ada seorang bapak-bapak datang ke rumah menanyakan ke Echa.
"Mamah mana ?"kata laki-laki itu
"Lagi ke pengkolan"echa jawab, (kalau disana kata "Pengkolan" itu sama dengan lagi ke Kota dan pasti belanja)
"Gaya amat !! Bayar hutang ga bisa !!" kata si Bapak kesal.
"Besok saya kesini lagi !!' sambil bapak itu pergi.
Lalu echa lapor ke ibunya kalau tadi ada orang yang marah-marah dan diceritainlah semua perkataannya, Ibunya cuma cuek saja dan bilang
"Gara-gara Papah kamu tuh !!" Ibunya sambil duduk dan kesal
"kenapa emang mah ?" echa jawab
"Ya itu ca mangkanya echa harus belajar yang bener supaya jadi orang sukses, ga kaya mamah dan papah yang salah" Ibunya menasehati.
Echa cerita ternyata keluarganya terlilit hutang, jadi pendapatan dan pengeluaran sangat tidak seimbang, habbit ibunya yang royal dan Ayahnya seorang kondektur membuat mereka terlilit hutang dan buat modal usaha yang tidak jalan, maklum ibu echa ini dulunya memang Orang kaya sehingga mungkin habbitnya sudah royal dan mengatur keuangan yang pas-pasan jadi tidak ter-manage dengan baik.
Ayah echa semenjak penagih hutang datang kerumah, tidak pernah pulang dan memberi nafkah, sampai tiba Ibunya melahirkan.
Saat itu Bulan Januari tanggal 20 tahun 2005 ibunya sedang berbaring karena sudah merasa mules, hari itu hujan deras sekali dan tidak berhenti hingga malam hari, Ibunya berpesan kepada anak-anaknya untuk tidur sekamar semua karena buat jaga-jaga kalau ibunya sudah harus ke RS, ibunya bilang akan kuat sampai besok baru masuk RS karena nunggu sudara yang sudah dihubungi untuk meminjam uang karna tidak ada uang sepeserpun saat itu, akhirnya mereka tidur.
Tiba-tiba pukul 02.00 pagi Ibunya membangunkan Adit dan Echa untuk minta tolong ke Bidan yang jaraknya 500 m dari rumah, akhirnya Echa dan Adir bergegas ke Bidan dan mengetuk-ngetuk pintu sampai sekitar 30 menit akhirnya bidan keluar, maklum dulu Hanphone kami masih belum punya.Bidan langsung bergegas ke rumah kami, Adit pun mencoba menghubungi Pamannya yang di bandung untuk minta tolong.
Dan akhirnya alhamdulillah pukul 10.00 Ibu Echa melahirkan seorang anak laki-laki dan semua biaya dibantu dari saudara-saudara.
Dan yang membuat Echa sangat sedih karena Ayahnya belum ada kabar juga, sampai menajdi pembicaraan tetangga dan saudara.
Disini mulailah masa kelam untuk kelaurga Echa dimulai, kehidupan yang awalnya normal dan harmonis sudah hancur, disini saya dan echa semakin dekat dan saya hanya bisa mendengar ceritanya saja karena menurut dia, dia sedikit lebih tenang dan echa berpesan ceritain sama orang-orang supaya selalu bersyukur, bahkan hingga saat ini setelah kita sibuk dengan kerjaan masing-masing kami masih berkomunikasi dengan baik.
Dan echa punya penyemangat dengan kata "AKU HARUS BISA . . . !!"
Lanjut part 2 ya, part 1 ini merupakan perkenalan dahulu, selanjutnya akan saya ceritakan bagaimana kelanjutan hidup seorang Echa yang harus menjaga ketiga adiknya dan bahkan masih bayi merah.
Terima Kasih.
Subscribe to:
Posts (Atom)